Latest Posts

Wasiat kematian Pecinta Masjid Nabawi 

Jangan Sampai Menyesal Seperti Sya’ban ra

Laki-laki yang rajin ke Masjid nabawi  itu bernama Sya’ban. Ia selalu datang lebih awal, selalu di shaf terdepan bahkan sering sekali iktikaf. 
Pada suatu Shubuh, Rasulullah SAW tidak menemukan Sya’ban di tempat biasanya. Karena penasaran dan merasa kehilangan sosok Sya’ban, Rasulullah SAW diantar para sahabat berinisiatif menjenguk langsung kerumahnya. Ingin mengetahui mengapa ia tidak lagi hadir shubuh berjamaah…😢
Ternyata ada fakta yg ditemukan ttg sahabat yg bernama Sya’ban ini: rumah Sya’ban dengan Masjid Nabawi ternyata berjarak 3 jam perjalanan. Kebayang yaa jauhnya… Belum ada kendaraan saat itu selain onta, kuda atau keledai. Dan Sya’ban dari rumah-masjid bolak balik jalan kaki! 😱
Lalu mengapa Sya’ban tidak datang Shubuh berjamaah? 
Masyaa Allah… Ia tidak sedang sakit atau kelelahan atau ada suatu urusan. Ia juga tidak bangun kesiangan krn begadang semalaman. Akan tetapi ia meninggal dunia. Ya, Sya’ban tidak shalat Shubuh berjamaah hanya karena satu alasan: telah meninggal dunia!😲😭 Masyaa Allah…
Lalu ada peristiwa menjelang kematiannya yg diceritakan istri Sya’ban kepada Rasulullah SAW. Istri Sya’ban bercerita bahwa ketika suaminya meninggal, ada pesan yang belum ia pahami…
Saat sakaratul maut Sya’ban mengatakan, “Mengapa tidak lebih jauh? Mengapa bukan yang lebih baru? Mengapa tidak semuanya?”
Ada apakah gerangan… Berdasarkan penjelasan Rasulullah SAW:
Rupanya, ketika sakaratul maut, Allah SWT memperlihatkan pahala-pahala kebaikan Sya’ban.  
Sya’ban “menyesal”, mengapa jarak rumahnya dengan Masjid Nabawi tidak lebih jauh.😭😭😭
Ia juga menyesal, suatu ketika ia mendapati orang yang kedinginan di Masjid Nabawi, ia memberikan baju yang lama sedangkan ia memakai dobel baju, yang satu baru dan yang satu lama. Kenapa tidak yg baru 😭😭😭
Dan suatu ketika, Sya’ban bertemu dengan seorang yang kelaparan tetapi ia hanya membagi sebagian rotinya sedang yang sebagiannya lagi ia makan. Kenapa tidak semuanya 😭😭😭
Lalu bagaimana dengan kita? Apakah yg menghalangi kita shalat ke masjid? Apa yg akan kita sesali saat sakaratul maut nanti? Semoga tidak menyesal seperti Sya’ban ra…. 😢😢😢
Allahuakbar…

Note : 

Copas dr fb rihaal umroh 

Hari Gini Masih Nanyain Ijasah(Sekolah terbaik) 


By ust Harry Santosa 

Sudah sejak beberapa tahun silam, perusahaan innovatif semisal Google, Apple bahkan perusahaan konsultan besar semisal Ernst & Young sudah tidak lagi mensyaratkan ijasah untuk bergabung ke perusahaannya. Yang dicari perusahaan ini adalah portfolio atau credentials.
Semakin kesini bahkan “ijasah” yang dikeluarkan kampus atau universitas, tidak lagi jadi referensi yang menentukan. Apalagi sejak munculnya beragam tulisan para pakar tentang bunuh diri masal banyak perguruan tinggi. Kampus dianggap tidak relevan dengan zaman dan tidak mengantarkan generasi kepada peran sejati manusia. 
Banyak perusahaan lebih melihat portfolio atau credentials atau rekam jejak seseorang di dalam proyek proyek yang relevan sekaligus karya apa atau terobosan (breakthrough) apa yang pernah dibuat. Banyak anak anak muda professional lebih memilih perusahaan kecil yang baru mulai namun dengan misi besar yang didukung atmosfir bekerja yang jauh lebih bermakna dan seimbang atau berorientasi human being.
Mungkin banyak yang mengira generasi Z lebih banyak diarahkan kepada keterampilan praktis bukan kemampuan berfikir filosofis akademis, kenyataannya bukan begitu, justru generasi Z lebih fokus mencari makna daripada uang, lebih mencari eksistensi daripada salary, tahapan berfikir filosofis mereka justru diawali dengan berperan jujur sesuai panggilan jiwanya. Dalam buku “The Art of Start”, Co Founder Apple, Guy Kawasaki banyak mengulas dan mengupas hal ini.
Jadi agak mundur ke belakang kalau para orangtua praktisi HS atau bukan masih tergopoh gopoh mengkoleksi ijasah, lalu masih berlomba mencarikan kampus hanya sekedar mendapatkan ijasah. 
Justru dorong anak anak sejak usia 10 tahun untuk menemukan makna dirinya sesuai fitrahnya, gairahkan untuk menemukan takdir peran peradabannya sendiri, semangati dan fasilitasi untuk berkarya atau membuat start up business nya sendiri bahkan lebih bagus jika terintegrasi dengan family business, magangkan mereka pada maestro kehidupan dstnya.
Ini bukan tentang pendidikan yang berorientasi dunia, justru begitulah pendidikan yang berorientasi akhirat, yang jujur dan syukur melahirkan peran peran peradaban sejati di dunia sesuai fitrah yang Allah karuniakan, dalam rangka mencapai maksud penciptaan untuk beribadah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi.
Justru pendidikan yang mengaku berorientasi akhirat, namun hanya mencetak manusia yang diukur dari ilmu yang dikuasai, jumlah hafalan yang diperoleh, ijasah yang dikoleksi, dstnya tanpa peran spesifik peradaban yang dicapai sesuai fitrahnya sehingga memberi manfaat bagi ummat maka sesungguhnya hanyalah pendidkan yang berhenti di dunia saja. Apalagi masih bertanya, “… ijasahmu mannnnaaa…?”
Salam Pendidikan Peradaban 

#firahbasededucation 

Baca juga : saatnya hijrah dalam Pendidikan anak

Taukah Anda bagaimana penduduk mekkah menunggu waktu sholat ? 


KOTA MENUNGGU SHOLAT
Pengalaman beberapa hari di kota Mekkah mengajarkan kepada saya betapa ritme masyarakatnya disesuaikan dgn waktu sholat.
Ketika azan sholat berkumandang, hampir semua aktivitas terhenti. Toko-toko langsung tutup, para pegawai seketika berhenti kerja, dan semua bergegas memenuhi panggilan sholat. Hayya ala sholah.
Di sekitar Masjidil Harom lebih menggetarkan lagi kondisinya. Jika kita terlambat masuk mesjid sejam sebelumnya. Apalagi di waktu subuh, maghrib dan isya niscaya kita tdk bisa masuk mesjid suci tsb. Jalan-jalan menuju mesjid tsb sudah ditutup, saking penuhnya jama’ah yg berada di dalamnya. Akhirnya, kita sholat di jalan-jalan, di mall-mall dan di pelataran sekitar Masjidil Harom.
Kota Mekkah al Mukarromah benar-benar kota menunggu sholat. Waktu disana disesuaikan dgn waktu sholat. Setelah sholat selesai, mereka bergegas kembali pada aktivitas semula. “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung” (Surat Al-Jumu’ah, Ayat 10).
Saya yg biasanya di Jakarta memakai ritme waktu berdasarkan jam dan jadwal harus benar-benar beradaptasi dgn kebiasaan masyarakat Mekkah yg ritme waktunya berdasarkan waktu sholat fardhu. Teringat jadinya sabba Nabi saw : “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).
Subhanallah…betapa Nabi saw ingin sekali agar kita umatnya merubah manajemen waktu harian berdasarkan waktu sholat, bukan berdasarkan jadwal waktu sekuler yg cenderung mengabaikan waktu sholat. 
Kalau Mekkah adalah kota menunggu sholat, maka Jakarta dan kota-kota lain di seantero dunia mungkin termasuk kota yg cenderung meninggalkan sholat. Dengan mudah masyarakatnya menunda, bahkan meninggalkan sholat. 
Karyawannya tidak berhenti bekerja ketika azan berkumandang. Dosennya tdk berhenti mengajar ketika azan berkumandang, mall dan toko-tokonya tidak tutup ketika azan berkumandang, dan rapat-rapat tidak break ketika azan berkumandang. 
Terlalu jauh jika saya bermimpi kota-kota lainnya akan mengatur waktu seketat kota Mekkah. Namun bagi Anda yg mendapat amanah menjadi pemimpin, mulailah mengatur waktu aktivitas anak buah Anda dgn waktu sholat. Pemimpin yg amanah bukan hanya pandai mencapai target kerja, tapi juga berani bertanggung jawab untuk meningkatkan kesholihan anak buahnya.
Jika Anda seorang pegawai, pendidik, pengusaha, profesional dan ibu rumah tangga, belajarlah mulai sekarang untuk mengatur waktu sesuai dgn waktu sholat. Bergegaslah untuk sholat dan tinggalkan segala aktivitas, kecuali darurat.
Selain lebih berkah karena hidup Anda selalu ingat dan menunggu waktu sholat, Anda juga terhindar dari sifat orang munafik yg suka menunda-nunda sholat. “Dan apabila mereka (munafik) berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. An Nisaa’: 142). “Ini adalah shalat orang munafik. Ia duduk hingga matahari berada antara dua tanduk setan. Lalu ia mengerjakan shalat ‘Ashar empat raka’at. Ia hanyalah mengingat Allah dalam waktu yang sedikit.” (HR. Muslim no. 622).
Ahh…..Belum apa-apa saya sudah rindu dengan kota Mekkah yg waktu sholatnya diutamakan lebih daripada aktivitas apapun. Terasa Allah itu begitu dekat dan kedamaian meruyak di relung hati ini bersama sholat yg khusyuk di tengah keramaian kota suci Mekkah.

Lihat juga video keutamaan kota  Mekkah

By. Satria hadi lubis
(9 Sep 2017, sehari sebelum meninggalkan kota Mekkah)

Bekal apa saat mau berangkat sekolah ? 

Bekal apakah yang ayah bunda berikan ketika anak berangkat sekolah?
Anak anak pada masanya akan melanjutkan pendidikannya. Bagi orang tua yang mengikuti sistem pendidikan nasional , mungkin akan mulai melepas anak pergi sekolah sejak usia PAUD. Bagi keluarga home schooling atau sekolah suka suka seperti kami, maka ada moment anak anak mempunyai program magang atau mondok . Naah bekal apakah yang musti kita berikan ke anak anak kita ?
Sebagain besar orang tua akan mengecek bekal fisik seperti perlengkapan sekolah, HP dan uang saku. Padahal bekal sesungguhnya sudah Allah jelaskan dlm firman Nya.
Anak anak kami sekarang mereka berpencar di kota yang berbeda, untuk menuntut ilmu, bahkan sampai di negeri yang butuh setengah hari untuk terbang menuju kesana, yang berjarak hanya 2 jam pesawat ke tanah suci.
Semoga mereka tidak pernah lupa bekal, yang selalu kami titipkan disetiap perpisahan dengan anak anak, jangan lupa bekal nya ya….
1. BEKAL PERJALANAN

Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik baik bekal adalah taqwa (al baqarah : 197)
2. BEKAL PAKAIAN

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26).
Nah, jangan lupa juga nitip doa ke anak anak kita, karena pada mereka berkumpul sekaligus tiga hal, doa anak untuk orang tua, doa anak yang sedang menuntut ilmu, dan doa anak yang sedang safar (diperjalanan).
Alhamdulillah kami sudah mempratekkan bekal taqwa ini bahkan sejak anak anak masih bayi ketika kami mau pergi keluar rumah. Atau mereka anak anak itu mau main keluar rumah. Ketika pamitan maka kami akan saling bertanya :
– bekalnya apa kak ? –

– Taqwallah –
Hal ini memudahkan kita dlm pengasuhan anak sehari hari . Senantiasa mengingatkan akan bekal kehidupan di dunia . Hingga kemanapun anak anak bepergian , malaysia , turki (baca juga : http://sekolahumroh.com/biro-umroh-jogja-umroh-plus-turki/ ) , Khartoum dan seluruh penjuru bumi Allah

Ulama penghafal al quran sejak kecil yang perlu kita tiru 

A. Belajar Dari Alim

Ada yang pernah belajar Ta’lim Muta’alim? Atau mungkin sahabat hanya sekedar tahu nama kitab ini?. Buat para sahabat yang pernah mondok atau pesantren, pasti nggak asing dengan nama kitab ini. yup, karena umumnya, kitab ini memang dipelajari para santri ketika mereka menuntut ilmu di sana.

Kitab Ta’limul Muta’allim merupakan salah satu karya klasik yang dibuat oleh seorang ahli bahasa dari Bukhara, Uzbekistan. Syeh Al-Zarnuji. Dalam Al-Mausu’ah disebutkan bahwa nama lengkap dari Imam Zarnuji adalah Burhanuddin Al-Zarnuji (Nu’man bin Ibrahim). (Baca Juga: Imam Bukhari) http://sekolahumroh.com/imam-bukhari-2/

Apa sih yang dibahas pada kitab ini?. Banyak pembahasan yang dikaji dalam kitab ini. Tapi umumnya, kitab ini membahas tentang bagaimana proses yang dilalui seorang santri atau murid dalam menuntut ilmu. Dari mulai bimbingan dan etika belajar, nasihat tentang akhlak seorang murid atau santri, contoh-contoh kisah ulama yang berhasil dalam menuntut ilmu, dan lain sebagainya.

Salah satu di antara yang telah disebutkan di atas adalah contoh-contoh kisah ulama yang sukses dalam menuntut ilmu. Demikianlah kita selayaknya mencontoh para alim dalam menuntut ilmu. Tak terkecuali dalam menghafalkan kitab suci al-Quran. Nah, berikut adalah beberapa contoh para Alim yang sukses dalam menghafalkan al-Quran dan menuntut ilmu di usia belia, di antaranya:

1. Salafus sholih

▪ Imam Syafi’i (150 H-204H), hafal Al-Quran ketika usia 7 tahun, Fuqaha sekaligus Muhadits

▪ Imam Ath-Thabari (224 H – 310 H), hafal Al-Quran sejak usia 7 tahun, Mufassir

▪ Ibnu Qudamah (541 H – 620 H), hafal Al-Quran usia 10 tahun, ulama

▪ Ibnu Sina ( 370 H- 428 H), hafal Al-Quran umur 5 tahun, pakar kedokteran

▪ Imam Nawawi, (631- 676 H) hafal Al-Quran sebelum usia baligh, Fuqaha sekaligus Muhadits

▪ Imam Ahmad bin Hanbal, hafal Al-Quran sejak kecil, ahli fiqh

▪ Ibnu Khaldun (732 H- 808 H), hafal Al-Quran usia 7 tahun, ahli politik

▪ Imam As-Suyuthi (w: 911 H), hafal Al-Qur’an sebelum umur 8 tahun.

▪ Ibnu Hajar Al-Atsqalani (w: 852 H) hafal Al-Qur’an ketika berusia 9 tahun.

▪ Jamaluddin Al-Mizzi (w: 742 H), hafal al-Qur’an ketika kecil

▪ Muhammad Al Fatih ( 835 -886 H), Hafal al-Quran, Penguasa Utsmani, Penakluk Konstantinopel (Baca Juga: Istanbul dan Umroh Plus Turki & Cappadocia) http://sekolahumroh.com/istanbul/

2. Ulama kontemporer

▪ Hasan Al Banna, hafal sejak 12 tahun, tokoh Pergerakan Islam

▪ Sayyid Quthb, hafal sejak 10 tahun, tafsir Fi Dzilalil Quran

▪ Yusuf Qaradhawi, hafal sejak 10 tahun, pakar fiqh kontemporer

▪ Presiden Mesir Mursi (Baca Juga: Situs Warisan Dunia Di Mesir) http://sekolahumroh.com/menjelajahi-situs-warisan-dunia-di-mesir/

▪ Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang, Lulusan Al Azhar (Baca Juga: Al-Azhar: Kiblat Ilmu Sepnajang Zaman) http://sekolahumroh.com/al-azhar-kiblat-ilmu-sepanjang-zaman/

B. Mengapa Pendidikan Al Quran Itu Harus Sejak Dini :

Dinyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At Thabrani, bahwa ada 3 perkara yang harus diajarkan kepada anak-anak kita. Pertama, mengajarkan bagaimana mencintai Nabi dan Rasul kita; Kedua, mengajarkan pula untuk mencintai keluarga Rasulnya; Dan yang ketiga adalah mengajarkan anak kita untuk tak hanya mengenal al-Quran, tapi juga mengajarkan mereka untuk membacanya sesuai dengan tajwidnya. Lebih-lebih kita mampu mengajaknya bersama-sama untuk menghafalkan al-Quran. Berikut haditsnya,

“Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara : mencintai Nabimu, mencintai ahlul baitnya dan membaca Al-Qur’an karena orang-orang yang memelihara Al-Qur’an itu berada dalam lingkungan singasana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan-Nya, mereka beserta para nabi-Nya dan orang-orang suci.” (HR. Ath Thabrani).

Pembelajar ini, tentu dilakukan setelah kita mengajarkan dan mengenalkan kepada anak-anak kita tentang ketauhidan Allah Ta’ala. (Baca Juga: merancang umroh sendiri) http://sekolahumroh.com/beginilah-cara-merancang-umroh-terbaik-agar-tidak-bermasalah/

Lebih lanjut, Abdullah bin Umar berpesan kepada kita, “Kamu harus bersama al-Qur’an, pelajari al-Qur’an itu dan ajari anak-anakmu. Karena sesungguhnya kamu kelak akan ditanya tentang al-Qur’anmu dan dengannya kamu akan mendapat pahala, dan cukuplah al-Qur’an sebagai pemberi nasehat bagi orang yang berakal.”

Semoga ini menjadi langkah awal kita untuk mau mendekatkan diri dan anak kita, yang tak hanya kepada Allah dan RosulNya. Melainkan juga kepada KitabNya.

C. Ada Pada Siapakah Tanggung Jawab Pendidikan Al Quran Anak? Tentunya Tanggung Jawab Itu Ada Pada Orang Tua

Anak merupakan anugerah dan titipan Allah Ta’ala. Maka sudah seharusnya, menjaga kebaikan pada diri seorang anak menjadi tanggung jawab orang tuanya (selaku yang diamanahi Tuhannya). Jadi, jika ditanya ada pada siapakah tanggung jawab pendidikan al-Quran seorang anak. Tentu jawabannya adalah ada pada orang tuanya.

Sahabat dapat berkaca pada secuil kisah pendahulu kita. Beberapa di antaranya:

▪ Kisah umar bin abdul aziz mendidik putra putrinya

Umar bin Abdul Aziz telah menghapal Alquran pada usia anak-anaknya, ia sangat mencintai ilmu agama. Terbukti dengan kebiasaannya berkumpul dengan para sahabat Nabi dan menimba ilmu di majlis mereka. Ia sering mentadaburi ayat-ayat Al-quran. Tak jarang ia menangis tersedu-sedu ketika membaca maupun mendengarkan lantunan ayat suci al-Quran.
Ibnu Abi Dzi’ib mengisahkan, “Orang yang menyaksikan Umar bin Abdul Aziz yang saat itu masih menjabat Gubernur Madinah, menyampaikan kepadaku bahwa di depan Umar ada seorang laki-laki membaca ayat,
وَإِذَآ أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُّقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا
“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al-Furqon: 13).
Maka Umar pun menangis sampai ia tidak bisa menguasai dirinya, pecahlah isak tangisnya, dan ia pun pulang ke rumahnya untuk menyembunyikannya.
Dan sikap inilah yang ia tularkan dan ajarkan kepada anak-anaknya. Agar tak hanya mengenal, tapi juga mampu membacanya, menghafalkannya, mengamalkannya juga meresapi setiap makna yang terkandung di dalamnya.
Dikisahkan bahwa Umar bin Abdul Aziz selalu meluangkan waktu khusus di setiap hari Jum’at sebelum ia bertemu dengan masyarakat. Ia berkumpul dengan anak-anaknya sembari membaca dan mempelajari isi al-Qur’an. Dimulai dengan membaca al-Quran dari anak tertua hingga semua anaknya mendapat giliran membaca.

• Kisah ibunda Imam Syafi’i mengarahkan pendidikan anaknya

Demikian pula dengan kisah Imam Syafi’i dan Ibundanya. Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya. Setelah ditinggal wafat suaminya, ibunda Imam syafi’i membawanya dari Gaza ke Makkah.
Di Mekah, ia mempelajari Alquran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Setelah berhasil menghafalkan al- Quran, ibunda mengirim anaknya ke sebuah pedalaman Makkah yang masih murni bahasa Arabnya. Sehingga, bahasanya lebih fasih dan tertata. Tak cukup sampai disana, Imam Syafi’i juga dikenal sebagai pemanah ulung dan jago berkuda. Ini semua tak lepas dari didikan sang bunda. Sampai pada akhirnya Imam Syafi’i menjadi ulama besar ternama.
Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku… …aku menghafal Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Al-Quranku, aku masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.
Inilah kisah berharga dalam mendidik anak kita. Walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya.
Baca juga :

Sejarah imam bukhari Hadiah umroh terbaik buat ananda 

Mengenal gerbong KERETA jogjakarta 

Komunitas KERETA-Keluarga Sekolah Pertama-

Adalah komunitas untuk mendidik anak secara bersama-sama, berkelompok, dekat antar orang tua, dekat antar anak. Dalam komunitas ini, orang tua wajib terlibat aktif dalam mendidik anak-anak. 
Core issue : Home-based Education , project based learning, family project , community based education 
Format : Support group
Bentuk support komunitas kepada masing-masing keluarga pelaku HbE diwujudkan dalam kelas-kelas belajar yang disebut dengan GERBONG

Apa saja gerbongnya ? 

— gerbong family strategic planning FSP 

menggodok para orang tua bagaimana mendesain family mission , core values, goal setting hingga exit prosedure dalam rangkaian pendidikan anak. 

Penjaga Gerbong: Fitri Iing&Sigit Nursyam 
— gerbong personal curriculum: forum sharing orang tua merancang kurikulum ananda berdasarkan Family map , keunikan , keunggulan dan talenta setiap anak. Sebagai syarat untuk masuk gerbong talent development. 

Penjaga Gerbong: Nila&Nurhadi, Sisil&Dewan

— gerbong Talent development : peron anak yang didesain berdasarkan kesamaan dan irisan PC ananda , dg support kontribusi dari orang tua  

Penjaga gerbong: Umi&Advian, Selly&Ayon, Qonita&Zaki, Rizka&suami, Puspita&Fauzi 

— gerbong akil baligh : Merupakan wadah bagi anak-anak yg memasuki pra-akil baligh dan akil baligh untuk menguatkan karakternya sebagai pemuda-pemudi muslim yang siap menanggung beban syariat, dan siap berkontribusi bagi umat secara luas sesuai dg strength dan passion masing-masing, s.d. mempersiapkan mereka membangun keluarganya sendiri.

Penjaga Gerbong: Rita&Agus

— gerbong lifelong learning : peron ortu untuk belajar , berbagi , bersinergi dan bermanfaat bagi masyarakat yg lebih luas 

Penjaga gerbong : bunda destila & bunda april 
LOKOMOTIF KERETA
Adalah ruang komunikasi bagi semua penjaga gerbong dengan elemen lainnya, yakni

Masinis: Ayah Agus&Bunda Rita

Kondektur: Selly & zahron 

Petugas loket: Nila & umi 

Juru sinyal : Sisil&Yosi

Plus penjaga gerbong gerbong. 
Member yg tertarik bergabung untuk (belajar) mengelola komunitas ini bersama para ‘penghuni’ lokomotif, sangaaaaat dipersilakan untuk memilih kontribusi dalam lokomotif (termasuk memilih jenis gerbong yg akan dijaga) sesuai potensinya.


Sharing learning networking 

WORKSHOP FAMILY STRATEGIC PLANNING *tiket masuk sbg penumpang KERETA*

Batch #3. 
Ahad 30 Okt 2016 , jam 07.00-13.00

Desa wisata grogrol sayegan 

Penjaga loket : bunda umi +62 857 29422353
Tiket : 

Single Rp 50.000

Couple Rp. 75.000 

Anak : pergi ke sawah Rp. 30.000 

Terbatas utk 30 orangtua 

Apa dulu konteksnya ? 

RABU BELAJAR 

Apa dulu konteksnya ? Kita sudah sering mendengar pertanyaan itu . Apa itu konteks ? Apa itu konteks belajar ? Apa bedanya dengan konten ?  

Sudah saya niatkan untuk mengalokasikan hari rabu untuk secara kontinue sharing learning & networking. 
Hari ini berkebun bersama gerbong parents komunitas KERETA Jogjakarta … ah tema yg tidak begitu menarik sebenarnya buat orang orang communicating dan marketing semacam saya . Masak iya saya akan ngobrol dg media tanam, bibit , benih , kantong polybag , sekam bakar, jerami. Mending saya kopdaran group bismillah umroh membahas tiket promo umroh murah 2017 atau hunting tiket murak ke jepang atau turki 😁
Lalu .. rugi donk jauh jauh ke nanggulan panas panas … 
Ini hasil belajar saya hari ini :  

1. Giatlah membaca buku .. setelah program master memang program reading . 

2. Segera rancang masa tua anda , belilah lahan yang lebih luas menjauh dari kota .. 😉

3. Segera kuasai SEO jika anda tidak mau tertinggal

4. Buatlah pengamatan , evaluasi , form kontrol , pengamatan , perkembangan pendidikan anak anak . 
Lah nah … kok gak ada hubungannya dg gardening ? 
Itulah learning .. tentukan kontex belajar anda yg sesuai potensi dan peluang bisnis anda .. 
Konten bisa sama : gardening. 

Kontex belajar mestinya beda , sesuai dengan tujuan belajar setiap murid. Naah bagaiamana kita merancang kontex pembelajaran anak akak kita ? 
Sekolahnya bisa sama , kegiatannya bisa sama. Aspek , tahapan dan fokus belajar dan evaluasi program tentunya akan sangat personal
Sumber referensi : 

— dalam bahasa bisnis / marketing, kami membahasnya dalam develop sekolahumroh.com 
Content 

Konten adalah isi, cara, atau teknis. 

Konten adalah “What To Offer” atau apa yang Anda tawarkan ke pengunjung. 
Context

Konteks (context) adalah wadah atau medium. 

Konteks adalah esensi, bigplan, atau garis besar.

Konteks adalah “How To Offer” atau bagaimana Anda menawarkan program plus layanan Anda yang menyentuh melalui sisi emosional. 

Apa dulu komteksnya ? 

Semoga bermanfaat 

Rabu 12 nov 

Bunda Rita rihaal