Artikel
Leave a Comment

Hari Gini Masih Nanyain Ijasah(Sekolah terbaik) 


By ust Harry Santosa 

Sudah sejak beberapa tahun silam, perusahaan innovatif semisal Google, Apple bahkan perusahaan konsultan besar semisal Ernst & Young sudah tidak lagi mensyaratkan ijasah untuk bergabung ke perusahaannya. Yang dicari perusahaan ini adalah portfolio atau credentials.
Semakin kesini bahkan “ijasah” yang dikeluarkan kampus atau universitas, tidak lagi jadi referensi yang menentukan. Apalagi sejak munculnya beragam tulisan para pakar tentang bunuh diri masal banyak perguruan tinggi. Kampus dianggap tidak relevan dengan zaman dan tidak mengantarkan generasi kepada peran sejati manusia. 
Banyak perusahaan lebih melihat portfolio atau credentials atau rekam jejak seseorang di dalam proyek proyek yang relevan sekaligus karya apa atau terobosan (breakthrough) apa yang pernah dibuat. Banyak anak anak muda professional lebih memilih perusahaan kecil yang baru mulai namun dengan misi besar yang didukung atmosfir bekerja yang jauh lebih bermakna dan seimbang atau berorientasi human being.
Mungkin banyak yang mengira generasi Z lebih banyak diarahkan kepada keterampilan praktis bukan kemampuan berfikir filosofis akademis, kenyataannya bukan begitu, justru generasi Z lebih fokus mencari makna daripada uang, lebih mencari eksistensi daripada salary, tahapan berfikir filosofis mereka justru diawali dengan berperan jujur sesuai panggilan jiwanya. Dalam buku “The Art of Start”, Co Founder Apple, Guy Kawasaki banyak mengulas dan mengupas hal ini.
Jadi agak mundur ke belakang kalau para orangtua praktisi HS atau bukan masih tergopoh gopoh mengkoleksi ijasah, lalu masih berlomba mencarikan kampus hanya sekedar mendapatkan ijasah. 
Justru dorong anak anak sejak usia 10 tahun untuk menemukan makna dirinya sesuai fitrahnya, gairahkan untuk menemukan takdir peran peradabannya sendiri, semangati dan fasilitasi untuk berkarya atau membuat start up business nya sendiri bahkan lebih bagus jika terintegrasi dengan family business, magangkan mereka pada maestro kehidupan dstnya.
Ini bukan tentang pendidikan yang berorientasi dunia, justru begitulah pendidikan yang berorientasi akhirat, yang jujur dan syukur melahirkan peran peran peradaban sejati di dunia sesuai fitrah yang Allah karuniakan, dalam rangka mencapai maksud penciptaan untuk beribadah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi.
Justru pendidikan yang mengaku berorientasi akhirat, namun hanya mencetak manusia yang diukur dari ilmu yang dikuasai, jumlah hafalan yang diperoleh, ijasah yang dikoleksi, dstnya tanpa peran spesifik peradaban yang dicapai sesuai fitrahnya sehingga memberi manfaat bagi ummat maka sesungguhnya hanyalah pendidkan yang berhenti di dunia saja. Apalagi masih bertanya, “… ijasahmu mannnnaaa…?”
Salam Pendidikan Peradaban 

#firahbasededucation 

Baca juga : saatnya hijrah dalam Pendidikan anak

This entry was posted in: Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s