Artikel
Leave a Comment

Heroisnya Umar bin Khatab mendidik anak

Heroisme Umar bin Khatab 

By Ust. Adriano Rusfi 
Ketertarikan terhadap sosok AlFatih adalah karena beliau seorang penakluk. Bagi ummat yang merindukan tegaknya khilafah, sosok ini menjadi begitu dirindukan. Sebagian besar aktivis ummat ini masih begitu yakinnya bahwa khilafah tegak lewat penaklukan.
Kalau saya sendiri justru tertarik dengan sosok Umar bin Khaththab ra. Kenapa ? Alasannya sederhana saja :

*Karena beliau ra punya anak dan cucu yang shaleh (Abdullah bin Umar ra dan Umar bin Abdul Aziz)*
Bagi saya, mewariskan keturunan yang shaleh itu sangat heroik. Banyak yang menganggap kalau heroisme itu hanya terjadi di medan tempur. Padahal, berumahtangga dan mendidik anak itu jauh lebih heroik.
Betapa banyaknya orang yang hebat di medan perang, tapi gagal total di rumahtangga. Betapa banyaknya orang yang sukses mendidik anak orang lain, tapi gagal mendidik anak sendirian.
Dalam menegakkan rumahtangga dan mendidik anak sangat banyak yang harus kita perjuangkan dan sangat banyak yang harus kita korbankan
Bagi yang sudah menikah tentunya sadar betapa menegakkan dan mempertahankan rumahtangga sangat tak mudah. Syaitan selalu mengintai setiap peluang perceraian. Ia lebih mirip medan jihad daripada taman bunga.
Sedangkan dalam mendidik anak, kita harus mengorbankan waktu, kesenangan, karir, peluang, capaian material dsb. Boleh jadi demi masa depan anak kita harus mengorbankan masa depan kita sendiri. Tak sempat ambil gelar doktoral karena fokus mendidik anak, bukankah itu heroik ?
Jangan pernah menyesal dan kecewa bahwa sejumlah mimpi gagal diraih gara-gara berkeluarga dan punya anak. Karena mewariskan anak shaleh adalah mimpi terbaik bagi dunia dan akhirat kita
Shaleh itu amal. Makanya ada istilah amal shaleh. Alhasil gambaran anak shaleh itu adalah anak yang aktif, produktif, progresif dan kontributif bagi kebenaran dan kebaikan.
Anak shaleh itu tancap gasnya kenceng. Namun sebelum nabrak injak rem. Mendahulukan amar ma’ruf sebelum nahi munkar. Mendahulukan melaksanakan perintah sebelum meninggalkan larangan. Mendahulukan kejar pahala sebelum jauhi dosa.
Anak shaleh itu lebih takut pada dosa iblis (tidak laksanakan perintah) daripada dosa Adam (tidak jauhi larangan) . Anak shaleh adalah anak yang sadar bahwa syarat masuk surga dan terhindar dari neraka tergantung dari banyaknya pahala, bukan dari sedikitnya dosa (QS AlQari’ah : 5 – 8)
Awal dari pendidikan anak shaleh adalah aqidah. Sehingga menjadi manusia progresif, karena diilhami oleh sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Berbeda jika yang pertama kali dididikkan adalah akhlak. Ia akan jadi anak santun, tapi pasif. Karena dalam Islam pendidikan akhlak adalah pendidikan pamungkas : terakhir dan puncak
Pendidikan aqidah itu memerdekakan anak, karena mereka terbebas dari segala bentuk penghambaan kecuali kepada Allah. Itulah yang membuatnya sangat progresif. Namun, agar tak kebablasan, mereka perlu dididik Akhlak sebagai fungsi kontrol.
prinsip pendidikan anak shaleh adalah seperti sabda Rasulullah SAW: 
“Permudah, jangan persukar. Berikan kabar gembira, jangan membuatnya lari” (Hadits)
Jadi, jangan berkata pada anak : “Berjalanlah dalam koridor Islam”
Tapi katakanlah : “Jangan berjalan dalam koridor Kebathilan”
Karena Islam itu luas, tak sempit seperti koridor. Sedangkan Kebathilan itu sempit seperti koridor.
Yang kita hasilkan selama ini adalah anak-anak terlalu normatif, pasif, reaktif, salah paham dan buruk sangka pada Allah, berfokus pada ancaman eksternal dst. 
Sikap dasar yang terbentuk terhadap Allah selama ini sangat bernuansa takut. Akibatnya kedekatan dan kelekatan generasi kita terhadap Allah sangat lemah.
Akibatnya ketergantungan kita terhadap Allah juga lemah. Kita terlalu percaya pada ikhtiar ketimbang pertolongan Allah.
Padahal keshalehan itu adalah kombinasi antara amal progresif dengan tawakkal seutuhnya : beramal bagai Mu’tazilah, tawakkal bagai Jabariyyah
Mu’tazilah adalah golongan yang hanya percaya ikhtiar. Sedangkan Jabariyyah justru tawakkal total tanpa ikhtiar. 

This entry was posted in: Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s