Artikel, hikmah kehidupan
Leave a Comment

Saatnya Iri Dengan keluarga Zubair 

Belajar dari Keluarga Zubair 🌷

By. Ust. Asep Sobari
Kajian dibuka dg pertanyaan, Siapakah Zubair bin Awwam? Mengapa keluarga Zubair yg layak menjadi contoh? Bagaimana pola pendidikan Zubair hingga menjadi sosok teladan?

Zubair bin Awwam adalah termasuk salah satu dari 10 sahabat Utama yg dijamin masuk surga oleh Allah. Termasuk assabiqunal awwalun. Masuk Islam di usia 16 tahun, dan memiliki kedudukan yg khusus di hati Rasulullah. Zubair bin Awwam, dikenal oleh penduduk bumi juga oleh penduduk langit. Inilah yg menjadi inti tujuan utama dalam mendidik generasi, terkenal di langit dan di bumi.

Ketika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan memanggil malaikat Jibril. “Wahai Jibril, Aku mencintai fulan, maka cintailah dia.” Maka Jibril pun mencintai fulan Dan mengumumkan kpd penghuni langit agar juga mencintai fulan.

Inilah inti dari terkenal di antara penduduk langit, menjadi org yg dicintai Allah. Inilah tujuan kita mendidik anak, menjadi terkenal di antara penduduk langit, lebih baik jika juga terkenal di bumi.

Sekarang kita berkenalan lebih jauh dg keluarga Zubair.

ekarang kita berkenalan lebih jauh dg keluarga Zubair.

Siapakah orang tua Zubair?

Ayah beliau adalah Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay. Kakak dari bunda Khadijah. Maka beliau adalah keponakan dr Bunda Khadijah. Dari jalur ayah ini beliau mewarisi kemampuan berdagang, mapan secara ekonomi, bangsawan yg karakternya lembut

Lalu dari jalur ibu, ibunda Zubair bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib. Beliau saudara kandung Hamzah, paman Rasulullah yg bergelar ‘Singa Allah’. Hamzah sangat kharismatik, termasuk salah seorang yg disegani oleh Abu Jahal. Dan karakter Shafiyah sangat mirip dg Hamzah ini. Terbayang ya..bagaimana kuatnya karakter kedua org tua Zubair, terutama sang ibu. Lalu dari jalur ibu, Zubair mewarisi kecerdasan yg tinggi, karena ibunda Zubair termasuk org yg memiliki pola berpikir lebih maju, berani melawan arus cara berpikir kebanyakan orang pada saat itu, keberanian dan keteguhan sikap.

Perpaduan orang tua yg hebat kemudian melahirkan sosok Zubair yg luar biasa.

Sekarang kita melihat siapakah istri Zubair? Istri beliau adalah Asma binti Abu Bakar. Siapa yg tidak kenal dg Asma binti Abu Bakar? Beliau yg terkenal dg julukannya ‘dzatin nitaqain’ (wanita yg memiliki 2 sabuk, sabuk yg diganti oleh Allah dg selendang dari surga. Akankah org yg mendapat jaminan selendang surga tdk masuk surga? Masya Allah..)

Asma yg dengan gagah berani ikut serta dalam perencanaan besar hijrahnya Rasulullah dan ayahnya dari kepungan kaum kafir Quraisy. Asma pula yg menyuplai bahan makanan utk Rasulullah Dan ayahnya selama bersembunyi di gua Tsur. Dan Asma yg dengan gagah berani berhadapan dg Abu Jahal, gembong kafir Quraisy yg ditakuti saat itu saat bertanya kemana Rasulullah Dan ayahnya pergi. Dengan berani Asma menjawab tidak tahu, hingga dipukul sampai berdarah. Tetapi Asma tdk membocorkan perjalanan hijrah itu.

Itulah sosok orang-orang di sekitar Zubair. Orang-orang yg berperan besar membentuk karakter seorang Zubair bin Awwam. Dan bersama istri yg shalihat dan tangguh menjadi peneman hidup Zubair, melahirkan generasi yang tak kalah gemilangnya.

Kini kita lihat anak-anak dari Zubair dan Asma. Dari rahim Asma, lahirlah Abdullah bin zubair. Lahir di Quba dan menjadi anak laki-laki pertama yg lahir dari kaum muhajirin. Kelahiran Abdullah begitu menggembirakan kaum muslimin, karena kaum Yahudi di Madinah sempat membuat isu bahwa kaum muhajirin adalah orang2 yg mandul Dan tdk bisa melahirkan anak laki-laki. Maka kelahiran Abdullah menjadi pematah isu tersebut.

Hal luar biasa lainnya adalah kita bisa membayangkan, Asma melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah dalam keadaan hamil tua. Betapa kuat fisik Asma saat itu, tangguh menjalankan syariat dalam kondisi yang paling lemah.

Begitu lahir, Abdullah dibawa ke hadapan Rasulullah saw. Didoakan dan diberi kurma kering yg telah dikunyah lembut oleh Rasulullah. Makanan pertama Abdullah adalah kurma yg telah bercampur dg air liur Rasulullah. Barang siapa yg di dalam tubuhnya ada bagian dari tubuh Rasulullah, maka tubuhnya tdk akan tersentuh api neraka. Zubair dijamin surga, Asma binti Abu Bakar dijamin surga, kini bayi Abdullah pun dijamin surga. Sungguh potret keluarga yg luar biasa bukan? Keluarga ahli surga.

Masa kecil Abdullah adalah masa-masa tersulit kaum muslimin di Madinah. Selama rentang usia balita Abdullah bin Zubair, Madinah dibawah ancaman peperangan. Ada lebih dari 30 ancaman yg menimpa kota Madinah. Di masa sulit itulah Abdullah bin Zubair menghabiskan masa kecilnya.

Di usia Abdullah 5 tahun ini, kota Madinah sedang terlibat perang Ahzab. Kota Madinah dikepung musuh selama 1 bulan lamanya. Seluruh kaum wanita Dan anak-anak berlindung di balik benteng. Suasana sangat mencekam, ditambah pengkhianatan dari Bani Quraizhah yg menikam dari dalam kota Madinah. Keadaan saat itu benar2 genting, dan Rasulullah mengutus Zubair bin Awwam utk menjadi informan yg menyusup ke kalangan Bani Quraizhah. Abdullah yg mengetahui hal itu, bangga luar biasa pada ayahnya. Dan keberanian berkobar2 di dalam dadanya. Dan pada usia 8 tahun, Zubair menyuruh Abdullah utk berbaiat kpd Rasulullah saw. Terbayangkah oleh kita anak umur 8 tahun berbaiat, menyerahkan dirinya di jalan Allah dan Rasul-Nya? Baik Zubair maupun Abdullah saat itu tahu persis apa konsekuensinya dr baiat itu.

Inilah generasi emas, yg dididik oleh keimanan yg kuat. Abdullah bin Zubair menjadi pemimpin perang yg menaklukkan Afrika Utara dg gemilang di usia 24 tahun. Dia pun menguasai banyak ilmu, ilmu fiqih, administrasi yg hebat, juga menguasai banyak bahasa, sekaligus menjadi orator Ulung. Tetapi, dia juga sekaligus ulama yg ibadah dan zuhudnya yg luar biasa.

Setelah Abdullah, anak Zubair berikutnya yg juga gemilang adalah Urwah bin Zubair. Urwah dikenal dg kedalaman ilmunya dan menjadi rujukan para ulama.

Inilah sekilas gambaran tentang keluarga Zubair bin Awwam, terkenal di langit dan di bumi. Sejarah menorehkan tinta emas kegemilangan keluarga ini.

Semua bermula dari proses awalnya, dari kegigihan seorang Shafiyah binti Abdul Muthalib mengasuh anaknya Zubair bin Awwam dg cara yg tdk biasa. Shafiyah mendidik Zubair di luar kebiasaan masyarakat Quraisy saat itu. Shafiyah adalah seorang ibu yg visioner, ketika ditegur tentang pola asuh yg diterapkannya, ia menjawab dg lantang, ” Aku sedang menyiapkan anakku utk mengemban tugas yg tidak biasa, tugas yg luar biasa kelak..” Dan Zubair membuktikannya, bahkan hingga ke cucu beliau Abdullah Dan Urwah.

Dan yang menjadi pendorong Utama perubahan itu adalah keimanan yg menancap kuat dalam jiwa para sahabat. Al-Qur’an Dan sunnah menjadi modal terbesar mereka utk berubah menjadi agent of change yg revolusioner. Menjadi Muslim, berarti menyiapkan diri menjadi agen perubah yg akan membawa kemaslahatan bagi alam semesta.

Mendidik generasi dg cara melampaui tantangan yg ada saat ini, bukan hanya sekedar reaktif atau utk penyelesaian masalah yg sesaat. Misalkan, ajarlah anakmu ilmu agar ia mampu membawa keseimbangannya bagi alam ini, menjadi khalifah di muka bumi yg akan mengatur dan mengembangkan. Bukan hanya sekedar memanfaatkan. Jadikan obsesi anak-anak kita adalah menjadi hamba yg taat, bukan hanya sekedar takut maksiat. Karena org yg taat kepada Allah pastinya akan menjauhi maksiat.
Semoga kita bisa belajar dari Keluarga Zubair, keluarga yg dirahmati Allah, dikenal di langit dan dikenang di bumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s