Artikel
Leave a Comment

merawat fitrah anak 

  

  
Diskusi Grup WA Home Education Berbasis Potensi dan Akhlak Nasional ( HE BPA NAS)
Ahad, 28 Juni 2015
Narasumber : 

Ust. Adriano Rusfi
Admin: Bunda Deasy

Host. : Ayah Indra

Co Host: Ayah Syaheed

Notulis: Bunda Zahara 
💟 MERAWAT FITRAH ANAK 💟
Oleh: Ustad Adriano Rusfi

——————————

 

Wajar kini banyak orangtua yang panik. Betapa tidak, ketika sang buah hati diperintahkan untuk shalat, susahnya bukan main. Padahal dipihak lain, saat mereka dilarang untuk berpacaran mereka malah melakukannya. Banyak orangtua yang risau dibuatnya, karena bagaimanapun mereka diperintahkan untuk memelihara diri dan keluargannya dari api neraka. Yang lebih memusingkan, itu justru terjadi ketika upaya “Islamisasi” rumah dan lingkungan sudah dilakukan optimal. Informasi sudah disaring, kehalalan makanan sudah dijaga, teman-teman mereka telah disortir, sementara media dan sumber informasi negatif sudah disterilisasi. Lalu, apalagi yang salah ?

 

Mungkin banyak yang lupa, bahwa pada fitrah anak kita telah Allah ilhamkan jalan dosa dan jalan taqwa (QS Asy-Syams : 8). Jika anak tiba-tiba berbohong, padahal sama sekali tak pernah diajarkan berbohong, maka jangan panik karena Allah telah ilhamkan padanya jalan dosa. Jika putri cilik kita tiba-tiba hobby menyarungkan jilbab ke kepalanya padahal tak disuruh, maka berbahagialah karena Allah telah ilhamkan jalan taqwa. Allah ilhamkan kedua jalan itu agar anak bisa memilih. Allah ilhamkan kedua jalan itu agar anak mampu membedakan antara benar dan salah.

 

Jadi, pendidikan anak itu bagi orangtua Muslim sebenarnya sangat sederhana : memelihara fitrah anak. Ya, karena mereka terlahir dalam fitrah, dan kedua orangtuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi (AlHadits). Perhatikan hadits tersebut ! sama sekali tak ada kalimat yang menyatakan bahwa “kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia Muslim”. Ya, karena fitrah itu dengan sendirinya Muslim, dan tak membutuhkan upaya “Islamisasi fitrah”. Wahai ayah bunda Muslim, gembirakan diri dengan kenyataan ini, karena hati yang senantiasa risau hanya akan melahirkan pendidikan yang tak ramah fitrah.

 

Ya, pendidikan yang tak ramah fitrah !!! Pendidikan yang tegak di atas kecemasan dan nyaris putus asa seakan-akan Allah telah meninggalkan anak-anak kita. Lalu pendidikan semacam ini akan penuh sesak dengan doktrin dan pemaksaan. Anak dikerangkeng dan dikoridor ketat, sedangkan sterilisasi dilakukan dimana-mana. Anehnya, semua benteng itu lalu jebol di sana-sini. Yang diajarkan shalat malah meninggalkan shalat. Yang menghafal AlQur’an saat kecil kini malas tilawah. Yang pergaulannya dijaga kini malah asyik berpacaran dan hamil di luar nikah. Yang dulu taat beragama kini malah melecehkan agama.

 

Mana mungkin mereka disterilisasi dari kebathilan, padahal Allah sendiri yang mengajarkan pada mereka jalan dosa ? Mana mungkin mereka tak tertarik pada kemaksiatan, padahal nenek-moyang mereka, Adam as pernah melanggar larangan Allah? Tapi, mereka juga mustahil tak tertarik pada kebajikan, karena kebajikan itu ada di dalam sanubari mereka. Dan tidak masuk akal mereka benci akan kebenaran, padahal kebenaran adalah jatidiri meraka. Sungguh, tugas kita, para orangtua adalah membersihkan kedua jalan itu, agar jalan dosa dan jalan taqwa keduanya berujung di pintu surga.

 

Sejujurnya, saya tak pernah rewel mengajari agama pada anak-anak saya. Sampai-sampai si Bungsu pernah berkata pada kakak sulungnya : “Kayaknya Abi tak mengajarkan kita agama” (tapi dibantah oleh kakaknya). Wajar, mungkin mereka bahkan tak merasakan bahwa sebenarnya saya mengajarkan mereka agama, namun sangat halus. Kalau toh kini mereka menjadi pemuda-pemudi yang tumbuh dalam ketaatan pada Allah. Itu karena saya “hanya” mengajarkan tiga hal pada mereka :

 

“Aku ridha pada Allah sebagai Rabbku… dan pada Islam sebagai agamaku… dan pada Muhammad SAW sebagai nabi dan rasulku…”

💢 Tanya Jawab 💢
1⃣ Bunda Fani (Gorontalo)
1. Bagaimana cara mengajarkan anak usia pre-aqil baligh tentang agama dengan sangat halus dan tanpa mereka rasa, yang kemudian menghunjamkan akidah yg kuat dalam diri mereka hingga mereka “ridha Allah sbg Tuhan mereka, Islam sbg agama mereka, & Nabi Muhammad saw sbg nabi mereka?”
2. Allah mengaruniai anak2 kita dg jalan takwa dan dosa. Bagaimana memberikan batasan2 pada anak mengenai jalan takwa & jalan dosa tersebut sesuai tahapan usia mereka (terutama usia pre-aqil baligh)?
3. Hal apa sajakah dalam pengasuhan orang tua yg dapat mencederai fitrah ketakwaan anak2?
Jawaban 1⃣ Terima kasih bunda Fani. Wah pertanyaannya berat berat nih.  

1. Untuk pertanyaan yang pertama, pada dasarnya mengajarkan agama pada anak dengan cara yang halus itu terutama dilakukan lewat kebiasaan di rumah, rumah yang telah mentradisikan agama dalam kehidupannya pada dasarnya adalah rumah yang telah mengajarkan agama dengan cara halus.   

2. kemudian yang kedua agama bisa diajarkan dengan cara halus lewat cerita cerita, lewat kisah kisah terutama yang kita ambil dari al quran 
Kemudian pada saat kita ngobrol ngobrol santai dalam keluarga yang penting kita juga sering sering menyebut nama Allah, mengucapkan puji syukur kepada Allah, memberikan kabar kabar gembira tentang ajaran islam itu juga sebenarnya pendidikan terhadap anak 
Mengajarkan anak agama tidak perlu selalu harus pakai ayat ayat atau doktrin doktrin
Tentang jalan dosa dan jalan taqwa pada dasarnya semakin kecil anak kita perlu lebih banyak menyampaikan jalan taqwa, Namun semakin anak itu bertambah besar hal hal yang berhubungan dengan jalan jalan dosa yang harus dihindari mulai perlu pelan pelan kita ajarkan, satu contoh misalnya pada anak anak di usia sebelum 7 tahun kita lebih perlu menekankan sisi jalan taqwa, agar itu juga bisa menjadi kabar gembira untuk mereka,
ketika mereka telah memasuki usia tujuh tahun ke atas mereka baru mulai kita sampaikan jalan jalan dosa yang harus mereka hindari. kenapa menyampaikan jalan taqwa perlu lebih didahulukan daripada jalan dosa? karena pada dasarnya jalan taqwa itu juga untuk menghindari jalan dosa.
3. Hal yang dapat menciderai fitrah ketakwaan anak adalah ketika orang tua di rumah tidak menyelaraskan antara ajaran ajarannya kepada anak dengan perilakunya sehari hari.
ketika mereka melihat terjadinya kesenjangan antara ajaran dengan perilaku sehari hari maka mereka mulai tidak mempercayai semua yang kita ajarkan. 
untuk itu orang tua juga perlu tampil apa adanya di depan anak jangan berlaku seperti malaikat yang ketika mengajarkan sesuatu, tapi mereka melihat kesenjangan yang begitu lebar antara perbuatan dan perkataan. selanjutnya orang tua juga jangan ragu ragu meminta maaf kepada anak anaknya pada saat mereka sebagai manusia dengan segala kelemahanku ternyata melakukan perbuatan perbuatan yang tidak sesuai dengan yang diajarkan.✅
2⃣ Bunda Rima.

Lalu pendidikan seperti apa yang harus kita lakukan? Agar anak anak kita menjadi anak anak yang sholeh seperti yang kita harapkan?

Jawaban2⃣ Pada dasarnya fitrah dari setiap anak kita adalah fitrah anak sholeh. jadi sebenarnya pendidikan yang perlu kita berikan kepada mereka adalah sebuah pendidikan yang mencoba untuk mengingatkan kembali nilai nilai kebenaran itu pada mereka, mencoba mengajak mereka menggunakan kata hati mereka sendiri. 
Makanya kita perlu sering sering mengajak pada anak bertanya pada kata hatinya sendiri, misalnya lewat pertanyaan “menurut keyakinanmu gimana?”, “menurut kata hatimu gimana?”, menurut perasaanmu gimana?”. 
orang tua misalnya bisa saja mengajak anak melihat sebuah tayangan, lalu kemudian bertanya pada anak tersebut “menurut kata hatimu perbuatan tersebut gimana?”
pertanyaan pertanyaan tersebut akan membuat anak sering bertanya tanya pada kata hatinya, pertanyaan kepada fitrahnya, dan fitrah setiap anak adalah sholeh
Pendidikan yang mendidik anak menjadi anak sholeh adalah pendidikan yang berbasis pada aktivitas: aktivitas yang membangun, aktivitas yang memperbaiki, aktivitas yang berguna pada umat, pada bangsa, pada kemanusiaan. karena sekali lagi sholeh itu amal, makanya dalam agama Islam ada istilah amal sholeh. 
mendidik anak sholeh adalah mendidik anak untuk aktivitas: aktivitas yang baik, aktivitas yang berguna dan bermanfaat. 
mendidik anak untuk menjadi anak sholeh itu pada dasarnya bukan semata mata dengan nasehat nasehat dengan ajaran ajaran, tapi lewat aktivitas yang baik.✅
3⃣ Bunda Fitrah ( Padang )

Ustadz,kegiatan aplikatif mengajarkan agama secara halus itu seperti apa?balita saya umur 2 thn 9 bulan,terkadang ada rasa khawatir di diri saya,apakah saya sdh mendidik anak saya dg baik dg status saya sbg ibu bekerja.dan adakah indikator keberhasilan kita dlm mendidik anak d setiap jenjang umurnya??
Jawaban 3⃣Apa kabar bunda fitrah dari bukittinggi? saya juga berasal dari pasar banto bukittinggi.
Bunda, mendidik anak tidak boleh dimulai dari rasa khawatir, tapi dari rasa yakin, dari rasa baik sangka, dari rasa gembira, dari rasa yakin bahwa Allah akan selalu membimbing kita untuk mendidik anak anak kita.
pendidikan agama yang halus itu adalah pendidikan yang berasal dari keyakinan bahwa mendidik anak itu mudah. justru yang susah adalah untuk menyimpangkan fitrah anak. 
memang dalam kehidupan sekarang ini banyak godaan: ada setan, ada lingkungan, ada media, ada hawa nafsu. tapi hal hal yang membuat anak menjadi anak baik jauh lebih banyak : ada hati nurani, ada akal sehat, ada pendidikan ada doa orang tua, ada malaikat dan seterusnya jadi kita harus berangkat dari optimisme dulu. 
nah yang kedua sebagaimana yang tadi sudah saya sampaikan juga diatas, bahwa pendidikan agama secara halus itu dilakukan lewat tradisi sehari hari dalam kehidupan kita. setiap kali kita mau mulai makan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, mengakhiri makan dengan alhamdulillahirobbil’alamin, lalu biasa sholat jamaah. itu juga adalah ajaran ajaran yang halus. kita tidak perlu terlalu mengajarkan anak agar mau mulai makan dengan basmalah. yang penting kita sendiri setiap makan anak tahu bahwa kita mengucapkan basmalah. 
kita tidak terlalu perlu juga terus menerus mengajarkan anak membaca hamdalah tapi yang penting dia setiap saat selalu mendengar bahwa setiap orang tuanya selesai melakukan sesuatu orang tuanya mengucapkan hamdalah
Indikator keberhasilan pendidikan anak pada setiap jenjang umurnya. Yang jelas kalau dia masih di bawah 7 tahun, dia menunjukkan cintanya pada kebenaran, cintanya pada kebaikan, cintanya kepada Allah, rasul, dan islam, membenci sesuatu yang buruk, membenci sesuatu yang jahat, maka tandanya anak tersebut telah memiliki jenjang keberhasilan dalam agama nya 
untuk anak yang usianya diatas 7 tahun kita juga sudah bisa melihat bagaimana ibadahnya, bagaimana rutinitas sholatnya, bagaimana puasanya, bagaimana baca al qurannya
nah kalau anak itu sudah di atas 10 tahun kita sudah bisa melihat bagaimana akhlaknya, bagaimana kecintaannya dalam penegakan ajaran ajaran islam, itu sudah bisa kita lihat pada anak ✅
4⃣ Bunda Arum ( Cilacap )

Ustadz, sy mau tanya:

1. bagaimana gambaran praktek mengajarkan agama dg sangat halus spt yg ustadz terapkan pada anak2 ustadz?
2. Pada setiap anak ada jalan dosa & taqwa, bagaimana klo yg dominan jalan dosa? Sy sbg ortu tentu ingin anak2 tumbuh sesuai fitrah tanpa ada pengekangan/pemaksaan namun mcegah agar anak2 tdk tersesat ke jalan dosa bagaimana ustadz?

Jazakallah 🙏
Jawaban 4⃣

1.Kadang kadang saya sampai lupa membayangkan bagaimana caranya dulu saya mengajarkan agama dengan halus pada anak anak, karena boleh dikatakan secara formal hampir nggak ada ajaran agama yang saya sampaikan kepada anak lewat cara resmi.
tapi satu hal barangkali yang selalu rutin saya lakukan setiap malam adalah cerita menjelang tidur. rata rata cerita itu: pertama kisah nabi nabi, kedua kisah kisah lain yang saya ambil dari al quran. dan anak anakIn bukan sekedar senang dengan cerita itu, bahkan ketagihan. kalau saya gak sempat menyampaikan cerita itu mereka bisa nangis. sementara untuk hal hal yang sifatnya mendidik agama secara formal saya bisa dikatakan hampir gak pernah. 
Dulu saat anak anak saya masih bayi saya sering menidurkan mereka dengan menyanyikan lagu lagu nasyid menyanyikan lagu lagu nasyid atau membacakan kalimat yang baik pada saat mereka masih sangat kecil. itu juga sebuah pendidikan agama yang halus pada anak, karena itu akan masuk ke alam bawah sadar mereka
2. Tentang dominannya jalan dosa ketimbang jalan taqwa pada diri anak anak, sebenarnya kita juga tidak perlu terlalu cemas. 
kadang kadang malah lebih baik jika jalan dosa itu keluar dan tumpah semua pada anak anak, agar pada saat mereka dewasa yang tersisa tinggal jalan taqwa. jadi pada dasarnya kehidupan ini juga fungsinya untuk membersihkan. maka ketika ada anak yang kok lebih banyak jalan dosa yang dia jalani boleh jadi ini bagian dari proses membersihkan dirinya. 
kemudian kita juga perlu berhati hati. coba mari kita lihat lingkungannya, lihat makanan yang dia makan. 
saya pernah suatu ketika anak saya pulang bermain dengan teman temannya lalu mengeluarkan kata kata jorok. ketika itu dengan keras saya bentak, dan kemudian kalimat itu tidak pernah dia ucapkan lagi.
yang penting penuhi rumah kita dengan cinta bukan dengan bentakan, sehingga sekali mendengar bentakan mereka langsung kapok✅
Sekolah Alam Bengawan Solo Solo

Sumber : Fb Ust Harry Santosa 

  

This entry was posted in: Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s