Artikel
Leave a Comment

Tes sidik jari – tes abal abal 

SIDIK JARI
By : Sarlito Wirawan Sarwono
Setelah kasus Otak Tengah, yang akhir-akhir ini sering ditanyakan kepada saya

adalah tentang Test Sidik Jari untuk mengetahui kepribadian anak. 

Saya sendiri yang sudah 43 tahun malang-melintang di dunia psikologi, belum pernah tahu sebelumnya

tentang keberadaan test tersebut dan tidak mau ambil pusing. Paling-paling penipuan

lagi, pikir saya.
Tetapi beberapa hari yang lalu, anak saya yang kebetulan juga psikolog, berceritera

kepada saya bahwa dia diajak temannya (baca: dikejar-kejar) temannya untuk

bergabung dengan usaha dia dalam usaha test Sidik Jari. Lumayan, kata temannya

itu. Captive market-nya ibu-ibu yang punya anak kecil, dan sekolah-sekolah, dan

biayanya Rp 500.000,-per anak.
Sebagai psikolog professional anak saya meragukan validitas dan reliabilitas

(keabsahan dan kesahihan) test itu. Apalagi dengan job dan statusnya yang sudah

mapan dan gajinya yang sudah berlipat-lipat di atas UMR, dia tidak mau ambil risiko,

karena itu ia minta pendapat saya.
Saya langsung saja menyatakan bahwa saya pun tidak percaya, tetapi saya

penasaran. Maka saya pun browsing semua jurnal Psikologi (hampir seluruh dunia

yang berbahasa Inggris) yang bisa diakses oleh mesin searcher dari Asosiasi Psikologi

Amerika (APA) dimana saya menjadi salah satu anggotanya.

Hasilnya menakjubkan, sekitar 40.000 tulisan yang mengandung kata “finger print”.

Langsung saya cari judul-judul yang kira-kira terkait dengan sidik jari dalam

hubungannya dengan bakat, kepribadian, atau kecerdasan anak. Hasilnya: NIHIL!

Sedangkan kalau saya gunakan kata kunci Dermatoglyphic (Dermato artinya kulit,

Glyphs artinya ukiran, jadi kulit yang berukiran) ada satu keluaran, yaitu tulisan

berjudul “Neurodevelopmental Interactions Conferring Risk for Schizophrenia: A Study

of Dermatoglyphic Markers in Patients and Relatives”, oleh

Avila, Matthew T.; Sherr, Jay; Valentine, Leanne E.; Blaxton, Teresa A.; Thaker,

Gunvant K. dalam Schizophrenia Bulletin, Vol 29(3), 2003, halaman 595-605. Jadi

tulisan yang satu ini pun hanya tentang hubungan antara gejala sakit jiwa

skhizoprenia (yang dipercaya merupakan penyakit turunan) dengan pola sidik jari

(yang juga merupakan bawaan),
Sebaliknya, dari Google saya mendapat banyak sekali keluaran setelah memasukkan

kata kunci “sidik jari”. Bahkan ada website-nya sendiri. Hampir semuanya berceritera

tentang ke-ilmiahan metode analisis kepribadian dengan test Sidik Jari ini. Bahkan

ada iklan promo yang menawarkan test Sidik jari “hanya” untuk Rp 375.000 per anak.

Sisanya adalah testimoni dari orang-orang yang pernah mencoba test yang katanya

pelaksanaannya sangat mudah. Sedangkan salah satu kalimat promosi mereka adalah

bahwa “Analisa sidik jari memiliki tingkat akurasi lebih tinggi daripada metode

pengukuran lain. Klaim akurasi 87%”.
Luar biasa kalau test itu benar. Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia”

kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, maka dia tinggal ongkang-ongkang kaki

dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil test Sidik Jari,

dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti pada orangtua,

beriman, bertakwa, saleh/salehah. Lebih senang lagi anggota Densus88. Tidak perlu

berpayah-payah lagi mereka. Cukup dengan memeriksa sidik jari, mereka bisa

mengidentifikasi pembom bunuh diri menangkapnya dan memasukkannya ke penjara.
Tetapi faktanya kan tidak seperti itu. Upaya manusia untuk mempelajari jiwa sudah

berawal sejak zaman Socrates, 400 thn sebelum Masehi, dan melalui perjalanan

sejarah yang panjang sekali, serta mendapat masukan dari berbagai ilmu, termasuk

ilmu faal dan kedokteran, serta matematika, Wilhelm Wundt baru menyatakan

Psikologi sebagai Ilmu yang mandiri pada tahun 1879 di Leipzig, Jerman (versi

Amerika oleh William James, di sekitar tahun yang sama di Universitas Harvard).

Pasca kelahirannya, Psikologi berkembang terus, termasuk mengupayakan berbagai

teknik dan metode untuk mengukur berbagai aspek kepribadian, termasuk test IQ,

minat, sikap, bakat, emosi dan seterusnya. Kemajuannya sangat langkah-demi-la

ngkah, tidak ada yang langsung meloncat, dan sebagaimana ilmu pengetahuan

lainnya, setiap kemajuan, temuan atau kritik selalu dilaporkan dalam jurnal-jurnal dan

seminar-seminar psikologi seluruh dunia. Karena itulah maka langkah pertama saya

adalah mengecek jurnal ilmiah Psikologi untuk memastikan apakah test Sidik Jari ini

termasuk metode yang diakui dalam Psikologi atau tidak.
Di sisi lain, teknik analisis sidik jari juga sudah berembang sejak 1800an. Tahun 1880

Dr Henry Faulds melaporkan tentang sistem klasifikasi yang dibuatnya untuk

mengidentifikasi seseorang. Tahun 1901 teknik yang disebut Daktiloskopi ini

digunakan di Inggris, 1902 di Amerika digunakan di kalangan pegawai negeri, 1905 di

Angkatan darat AS, dan sejak 1924 mulai dipakai oleh FBI. Tetapi semuanya adalah

untuk menentukan identitas fisik seseorang. Misalnya, apakah benar sidik jari yang

ditinggalkan pelaku di TKP (Tempat Kejadian Perkara) perampokan adalah milik si

Fulan. Sebelum ditemukan system DNA, Daktiloskopi lah yang menjadi andalan Polisi.

Namun di kemudian hari, nampaknya teknik analisis Sidik Jari yang awalnya hanya

untuk identifkasi fisik, berkembang menjadi teknik identifikasi psikis (kejiwaan) juga.

Ilmuwan Inggris Sir Francis Galton yang masih sepupu Sir Charlis Darwin adalah

penganut teori evolusi. Dia percaya bahwa kepribadian ditentukan oleh bakat-bakat

yang dibawa sejak lahir dan bakat-bakat itu terukir di sidik jari srtiap orang. Maka ia

menerbitkan buku “Finger prints” (1888) dan memperkenalkan klasifikasi sidik jari

yang dihubungkan dengan klasifikasi kepribadian.

Pasca Galton, nampaknya Dermatoglyphs semakin berkembang dan diyakini sebagai

ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan buku-buku dan jurnal-jurnal “ilmiah”

mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan

keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi.

Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari

psikologi.
Ilmu semu lain dalam psikologi yang banyak kita kenal adalah Astrologi (banyak di

majalah-majalah wanita dan remaja, tetapi tidak pernah ada di Koran SINDO),

Palmistri (ilmu rajah tangan, yang ketika saya mahasiswa sering saya pakai untuk

merayu mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra sambil meraba-raba tangannya),

Numerologi (meramal atau menjodohkan orang dengan menggunakan angka-angka

tanggal lahir dsb.), Tarrot (dengan menggunakan kartu-kartu) dan masih banyak lagi.

Semua itu mengklaim diri sebagai ilmu, lengkap dengan literatur dan teknik masing-

masing, dan memang nampaknya sahih dan canggih betul (ada yang putus dari pacar

gara-gara bintangnya tidak cocok).
Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh semua ilmu semu, yaitu tidak bisa

diverifikasi teorinya. Dalam Astrologi, misalnya, tidak pernah bisa dibuktikan hubungan

antara singa yang galak, dengan bintang Leo. Apalagi membuktikan manusia

berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak juga cewek Leo yang jinak-jinak

merpati, loh!).

Dalam hal ilmu Sidik Jari, sama saja. Tidak bisa diverifikasi bagaimana hububnannya

antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir,

bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variable seperti faktor

sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, walaupun juga

termasuk sedikit faktor bawaan.
Pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh fator bawaan (nativisme) sudah lama

ditinggalkan oleh Psikologi . Teori yang berlaku sekarang adalah bahwa kepribadian

ditentukan oleh pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu untuk

memeriksanya diperlukan proses yang panjang (metode psikodiagnostik, assessment)

dan duit yang lumayan banyak.

Karena itu saya tidak pernah menyarankan orang untuk ikut psikotes kalau hanya

untuk ingin tahu. Buang-buang duit. Tetapi lebih sia-sia lagi kalau buang duit untuk

tes Sidik Jari. Dr Budi Matindas, psikolog (UI) menerangkannya jauh lebih simpel:

sidik jari permanen dari lahir sampai mati. Jiwa/kepribadian berubah terus dari bayi

sampai tua. Bagaimana sesuatu yang berubah bisa berkorelasi dengan sesuatu yang

tidak pernah berubah?
Jakarta, 11 Mei 2011

Sarlito W. Sarwono Tulisan ini dimuat di Koran SINDO 15 Mei 2011. 
*saya termasuk yg suka metode observasi, dibanding tes2an, krn keyakinan yg sama bhw manusia itu dinamis

  

This entry was posted in: Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s