Artikel
Leave a Comment

Red ocean strategy Untuk menghadapi persiangan bisnis yang berdarah darah  

  
Inovasi Bukan Lagi Sebuah Pilihan

oleh Aisyah Khairunnisa’

Di era globalisasi inovasi merupakan sesuatu yang bersifat mutlak harus dimiliki oleh semua pelaku bisnis. Oxford dictionary mendefinisikan inovasi sebagai sebuah tindakan atau proses memperkenalkan ide, metode, atau produk baru. Sebagai seorang mahasiswa jurusan Bisnis Manajemen, saya akan membatasi pembahasan inovasi dalam ruang lingkup dunia bisnis untuk penulisan esai kali ini. Di dalam dunia bisnis, inovasi dapat diartikan dengan proses menterjemahkan sebuah ide atau penemuan menjadi sebuah barang atau jasa yang dapat menciptakan value atau sesuatu yang konsumen bersedia untuk membayar. Untuk dapat dikatakan sebagai sebuah inovasi, sebuah ide haruslah dapat diwujudkan pada biaya ekonomis dan harus dapat memuaskan ekspektasi dan kebutuhan spesifik dari para konsumen.

Para pelaku bisnis perlu menciptakan inovasi di dalam aktivitas bisnis agar bisnisnya dapat menjadi bisnis yang berkelanjutan. Dengan rendah hati, menurut pendapat saya pribadi ada tiga faktor yang dapat menjadi sumber terciptanya inovasi, yaitu adanya opportunity, creativity, dan knowledge.  

Opportunity atau peluang menjadi faktor penting terciptanya inovasi karena dengan adanya peluang, para pelaku bisnis akan terpacu atau terpaksa untuk menyusun strategi yang inovatif serta memaksimalisai penggunaan resources yang mereka miliki untuk mengambil peluang yang ada agar dapat memenangkan kompetisi. Opportunity yang dimaksud dalam konteks ini tentunya merupakan opportunity yang bersifat positif, yang dapat menjadi sarana untuk mendatangkan benefits bagi perusahaan, baik benefit dari segi finansial maupun nonfinansial.

Pada dasarnya opportunity dapat datang secara natural dan dapat juga diciptakan. Salah satu tool yang telah terbukti banyak berhasil digunakan oleh para pelaku bisnis yang memiliki latar belakang lebih dari 30 industri untuk menciptakan opportunity adalah Blue Ocean Strategy. Strategi yang pertama kali digagas oleh W. Chan Kim dan Renée Mauborgne ini merupakan strategi menciptakan market space baru sehingga memungkinkan bagi perusahaan untuk keluar dari persaingan di dalam industri yang telah ada. Blue ocean strategy membuat persaingan yang ada, yaitu persaingan untuk memenangkan market dengan cara memilih salah satu strategi bersaing antara differentiation atau low cost, menjadi tidak relevan.

 

Empat kerangka berpikir yang menjadi kunci utama dalam aplikasi blue ocean strategy untuk menciptakan kurva value baru bagi produk atau jasa yang dimiliki perusahaan adalah Raise (Faktor-faktor apa saja yang harus ditingkatkan untuk mengungguli standar industri?), Eliminate (Faktor-faktor apa saja yang harus dieliminasi karena telah lama dikompetisikan di dalam industri?), Reduce (Faktor-faktor apa saja yang harus dikurangi di bawah standar industri?), dan Create (Faktor-faktor apa saja harus diciptakan-yang sebelumnya belum pernah diciptakan oleh industri sejenis?). Dengan mengaplikasikan keempat kerangka berpikir tersebut perusahaan didorong untuk secara terus-menerus menciptakan inovasi untuk melakukan strategi differentiation dan low cost.

 

W. Chan Kim dan Renée Mauborgne menggunakan istilah red ocean (sebagai lawan dari blue ocean) untuk menggambarkan kondisi persaingan di industri yang telah ada, dimana para pelaku bisnis di dalamnya berkompetisi untuk memperebutkan share yang lebih besar dari demand yang terbatas. Gambaran analogi sederhana dari red ocean adalah seiring dengan bertambah ramainya kondisi market space, prospek untuk profits dan growth akan semakin berkurang, hal ini dapat memicu terjadinya persaingan di “air yang berdarah-darah”.

Faktor kedua yang dapat menjadi sumber inovasi adalah creativity. Kreativitas merupakan katalis dan dapat menjadi value added dalam proses penciptaan inovasi. Kreativitas memudahkan seorang individu atau sebuah kelompok dapat berpikir unik dan out of the box. Dalam penciptaan inovasi, kreativitas dibutuhkan sepanjang proses penterjemahan ide atau metode hingga menjadi produk atau jasa yang nantinya menghasilkan value tertentu dan konsumen bersedia membayarnya. Kreatifitas dibutuhkan secara signifikan pada fase awal penciptaan ide, namun pada fase pengembangan ide akan lebih banyak ditemukan kegiatan-kegiatan findings dan problem-solving yang tetap membutuhkan berbagai input yang kreatif.

Faktor selanjutnya adalah knowledge. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu berperan penting dalam terciptanya inovasi. Penggunaan ilmu dalam menciptakan inovasi dapat meningkatkan efektifitas serta efisiensi pelaku bisnis karena ilmu akan mengeliminasi aktivitas trial dan error, hal tersebut terjadi karena ilmu merupakan teori yang telah berhasil diuji dan dibuktikan sebelumnya. Selain itu, segala sesuatu yang didasari oleh ilmu akan lebih terpercaya, akurat, reliable, dan akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Go-Jek merupakan salah satu contoh start-up businsess yang dapat dikategorikan sukses melakukan inovasi yang bersumber dari opportunity, creativity, dan knowledge. Didirikan sejak tahun 2011 Go-Jek berhasil menangkap opportunity dari banyak hal diantaranya adalah perkembangan teknologi smartphone, peningkatan kesibukan masyarakat terutama yang tinggal di wilayah urban, dan adanya kebutuhan masyarakat akan kepastian argo yang harus dibayar saat menggunakan jasa ojek. Selanjutnya dengan bantuan creativity, Go-Jek berhasil menciptakan sebuah inovasi berupa sistem baru di dunia “perojekan” di Indonesia dalam bentuk mobile apps yang dapat memudahkan para penumpang ojek untuk memesan ojek dan memudahkan para pengemudi ojek untuk mendapatkan penumpang. Aplikasi Go-Jek ini dapat diakses dengan mudah oleh setiap pengguna smartphone. Keberhasilan Go-Jek tentu saja bukan merupakan hasil dari kebetulan yang dihasilkan oleh sembarang asumsi ataupun spekulasi. Sejak awal beroperasi Go-Jek pasti didrive oleh knowledge. Contoh knowledge yang digunakan Go-Jek adalah ilmu marketing. Ilmu marketing diaplikasikan dalam bentuk promo menarik seperti adanya pemberlakuan flat rate seharga 15 ribu rupiah dengan tujuan kemanapun dengan batas jarak maksimal 25 kilometer. Contoh lain pengaplikasian ilmu marketing pada Go-Jek adalah pemberian kode promosi yang berisikan voucher Go-Jek dengan nominal tertentu. Kode promosi tersebut dapat dihadiahkan dan digunakan oleh orang lain. Sesuai dengan ilmu marketing, referensi dari teman merupakan salah satu faktor terpenting yang menjadi pertimbangan bagi seseorang sebelum melakukan keputusan pembelian terhadap sebuah produk atau jasa.

Hadir dengan tagline “An Ojek for Every Need”, Go-Jek berhasil mengembangkan inovasi untuk memperluas jenis layanannya. Sukses dengan layanan jasa transportasi penumpang, Go-Jek menambah layanan yang diberi nama Go-Food dan Go-Mart.Go-Food adalah layanan jasa antar makanan di bawah 60 menit sedangkan Go-Mart adalah layanan jasa antar produk kebutuhan sehari-hari yang didatangkan langsung dari supermarket lokal.

Banyak manfaat positif yang diperoleh Go-Jek dari berbagai inovasi yang berhasil diciptakannya, seperti benefit berupa efektivitas, efisiensi, dan pertumbuhan profit perusahaan dari waktu ke waktu seiring dengan perluasan wilayah di Indonesia yang sudah dapat mengakes Go-Jek. Selain mendatangkan manfaat bagi perusahaan, pengaplikasian berbagai inovasi dalam perusahaan Go-Jek juga berhasil memberi manfaat positif bagi stakeholders lainnya seperti bagi para pengemudi dan penumpang (customer). Manfaat yang diperoleh dari para pengemudi Go-Jek antara lain adalah tingginya tingkat fleksibilitas waktu jam kerja pengemudi Go-Jek dan terbuka lebarnya kesempatan bagi para pengemudi Go-Jek untuk mendapatkan pendapatan bulanan di atas rata-rata pengemudi ojek pada umumnya. Para customer Go-Jek memperoleh manfaat diantaranya berupa meningkatnya tingkat security mereka saat menggunakan jasa Go-Jek yang merupakan ojek dengan sistem argo serta memungkinan seseorang untuk meningkatkan efisiensi waktu dengan menggunakan layanan Go-Food ataupun Go-Mart.

Sebagai salah satu generasi muda Indonesia saya mengimbau agar kita dapat menjadi pemuda yang memiliki jiwa entrepreneur. Untuk memiliki jiwa entrepreneur seseorang tidak harus menjadi 

seorang entrepreneur, karena pada dasarnya jiwa entrepreneur ditandai dengan kepandaian dalam hal menangkap peluang yang ada atau menciptakan peluang (peluang dapat ditemukan di mana saja, termasuk di lingkungan kantor, bagi para pegawai) dengan terus menerus menciptakan inovasi. Ya, inovasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan menjadi sebuah keharusan.  

  

This entry was posted in: Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s