Artikel
Leave a Comment

Mendidik anak cinta dan hafal AL quran 

   

Catatan kecil ini adalah sebagian hal yang saya endapkan setelah mengikuti Seminar Parenting Qur’ani: “Mendidik Generasi Cinta dan Hafal Qur’an” yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Salimah DIY pada Ahad 19 April 2015 kemarin. Mengapa saya sebut sebagian? Karena saya datang terlambat..hehe. Berhubung paginya kami harus menghadiri acara gathering dan sarapan pagi DPC PKS Bantul yang mana suami tidak bisa absen karena diberi amanah untuk mengisi acara, nah, kira-kira jam 10.00 lebih kami sampai di auditorium MMTC—lokasi acara. Alhamdulillah, suami bisa ikut seminar di sela-sela jadwalnya yang belakangan padat. Sangat bersyukur, soalnya kalau saya sendirian, biasanya saya yang gumunan ini pada akhirnya sangat kesulitan memilah mana yang akan ditransfer ke suami, baru kemudian kami tentukan apa yang akan ditindaklanjuti. Jalurnya pajang banget kan yak? Beda kalau seminarnya bareng, sambil nyimak biasanya sambil memilah milah ini lho, yang kita belum lakukan, dan seterusnya.

Baiklah.… mari kembali ke topik seminar. Pembicaranya adalah Ustadzah Dr. Sarmini, Lc. Ummahat Jakarta yang juga aktif di pimpinan pusat Salimah, dosen di kampus LIPIA, sambil mengasuh Rumah Qur’an Utrujah, juga menulis buku Alhamdulillah Balitaku Hafal Qur’an. Meski bekerja, beliau tetap mendidik sendiri putra-putrinya yang juga penghafal Qur’an (homeschooling). Rata-rata mereka lancar membaca Alquran di saat balita, beliau ajari sendiri dengan metode utrujah yang beliau kembangkan. Putri sulung beliau, Saudah, menyelesaikan setoran hafalan 30 juz di usia 7,8 tahun. Masya Allah. Kebayang kan, wow-nya? (tuh kan..gumunannya kumat..saya mah gitu orangnya :p)

Secara umum, ada beberapa poin yang saya simpulkan (sendiri) dari materi yang beliau sampaikan. Soal pentingnya Alquran dan keutamaan menghafal, tidak saya bahas disini ya… anggap saja sudah lewat dan kita telah sama-sama memahami bahwa ini penting. Selebihnya, saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya rumuskan sendiri sebagai berikut:
Mengapa sejak dini? Balita? Beneran nih, sekecil itukah?

Jawabannya jelas: iya, dan beliau telah membuktikannya. Barangkali ada sebagian orang (termasuk saya dan suami) beranggapan seperti ini: didik sajalah anak senatural mungkin. Biar puas bermain di masa kecilnya, bersosialisasi bersama teman-temannya, hingga saat dia telah bisa memutuskan mana yang baik dan buruk untuk dirinya, dia akan mengambil pilihan menghafalkan alqur’an dengan kesadaran: ayah, ibu, aku mau menghafal qur’an! Pandangan ini tidak sepenuhnya salah, hanya saja berisiko tinggi. Apakah kita tidak memperhitungkan jeda waktu yang sekian lama dengan berbagai kemungkinan ‘lain’ terjadi pada masa itu? Di era gadget dengan berbagai risikonya, dengan tingkat pergaulan yang tidak memberikan jaminan sterilitas dari teman-temannya—bahkan di sekolah Islam sekalipun, serta berbagai hal yang memungkinkan dia pada akhirnya memilih jalannya sendiri: aku tidak mau jadi penghafal alqur’an ah, nggak asik. Naudzubillah.

Maka masa kanak-kanaklah waktu terbaik untuk menginstall kecintaannya kepada alqur’an, juga menanamkan cita-cita untuk menjadi ‘penjaga’nya. Saat fitroh anak-anak masih terlindungi, saat ketergantungannya kepada orang tua belum terlepas, maka itulah saat yang paling tepat. Ya, saat ia masih ‘jernih’. Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa daya ingat pada masa-masa golden age ini akan terekam kuat untuk seterusnya. Kalau pepatah Arab mengatakan, ibarat mengukir di atas batu. Masya Allah. Mari kita ikuti tradisi para ulama, yakni dengan mandahulukan pendidikan alqur’an sebelum yang lainnya. Sejak dini. Yakinlah, bahwa kalamullah yang mulia ini adalah sebaik-baik ilmu, dan bekal berharga untuk ilmu-ilmu selanjutnya.

Antara menghafal dan membaca: apa pentingnya mengajari anak membaca alqur’an terlebih dahulu?

Nah, inilah termasuk pertanyaan saya sejak lama. Selain terpengaruh dengan teori pendidikan yang mengatakan bahwa anak dibawah usia sekian belum patut diajari symbol-simbol (wich is closely related to membaca—termasuk Alquran), saya juga agak aras-arasen merespon syiar mengajar membaca alqur’an sejak dini karena pada kenyataannya tetap mudah mengajarkan tahfidz kepada anak kami (Taqiyya) secara oral. Ya, ia tetap bisa menghafal dengan baik selama ini meski belum bisa membaca alqur’an.

Apa kata ustadzah Sarmini? Pertama, hati-hati propaganda yang secara sistematis ingin memundurkan generasi Islam dengan cara menjauhkan anak-anak dengan Alquran. Kitabullah berbeda, tidak dengan standar manusia, tetaplah ajari anak membaca Alqur’an sedini mungkin—tentu dengan metode yang tepat. Kedua, menghafal secara talaqqi pada akhirnya akan terpentok pada fase ketika pendamping (atau orang tua) mengalami kerepotan tertentu yang tidak bisa dihindarkan, sementara saa titu anak masih bergantung penambahan hafalannya dengan ditalqin, sehingga justru menghambat proses tahfidznya. Sedangkan anak-anak yang sudah bisa membaca, dia dapat berusaha menambah hafalannya secara mandiri sehingga meringankan pendampingnya (misalnya untuk orang tua dengan banyak anak, dsb). Tidak masalah mengawali dengan ditalqin, tetapi jika ingin hafalannya banyak, ajarkan ia membaca alquran dan menghafal secara mandiri—sehingga pendamping tinggal mengawal setoran dan murojaahnya saja. Ketiga, persoalan kita yang lebih utama adalah menumbuhkan kecintaan dengan alqur’an. Menghafal juga penting, tetapi, kecintaan akan tumbuh lebih subur saat anak terbiasa memiliki jadwal atau target khusus membaca Alquran setiap harinya, berinteraksi dengan mushaf alqur’an.

(lebih lanjut tentang metode utrujjah akan disampaikan dalam follow up seminar ini, yakni berupa pelatihan bagi orang tua untuk mengajari anak balita membaca alqur’an dengan efektif dan menyenangkan)

Bagaimana kiat khusus mengajarkan membaca sejak kecil?

Mulailah dengan yang mudah. Seorang anak mungkin merasa bahwa dari belakang lebih mudah, atau mulai awal juz 30 lebih mudah, atau loncat surat yang menurutnya lebih mudah untuk dihafal, tidak masalah. Yang terpenting anak konsisten menghafal—hingga mutqin—dan insya Allah kelak semua dapat terkumpul 30 juz. Berikan kemudahan, dan jangan mempersulit mereka. Selalu berikan motivasi bahwa ia dapat melakukannya.

Sebagai bentuk feedback, orang tua dapat memberikan reward sesuatu yang disukai anak. Bagaimana prinsip reward? Apa saja dan sebervariasi mungkin, mulai dari sesuatu yang bersifat fisik hingga sesuatu yang bersifat maknawi. Dan bila perlu, visualisasikan rewardnya. Ustadzah bercerita, pernah menjanjikan sesuatu untuk putrinya juka berhasil mencapai target khataman. Reward tersebut dibungkus dengan sesuatu yang transparan, lalu gantung/tempatkan di lokasi yang susah dijangkau anak. Anak tidak diperbolehkan menyentuhnya samasekali kecuali target telah tercapai. Mulanya anak mungkin anak akan memohon diizinkan meski hanya untuk menyentuhnya, tetapi asal orang tua konsisten, rasa penasaran dan keinginan kuat untuk mendapatkan reward tersebut akan memompa anak untuk menyelesaikan targetnya.

Buatlah tantangan, siapkan hadiah atau bila perlu kejutan. Khawatir anak akan ketergantungan dengan reward? Beliau mengilustrasikan begini, (dan selanjutnya membuat mayoritas peserta yang merupakan ibu-ibu jadi ger-geran) “ibu kalau ada toko, jualan sesuatu, dan disitu pasti ada diskon, mau beli disitu atau pilih di took lain yang nggak ada diskonnya?” (jawab: disituuuu… *sambil malu-malu*). “Kalau bulan depan ada diskon lagi, mau nggak beli disitu lagi?” (jawab: mauuuuu *meringis*). “Itu ketergantungan nggak namanya bu?” (klakep dehh..hehe) Kesimpulannya: menyoal reward tadi, bisa jadi selama ini kita sekedar “khawatir” anak bakal ketergantungan, dan sebenarnya anak tidak sampai benar-benar ketergantungan. Prinsipnya, jika itu baik, kenapa tidak? Kalau untuk hal lain, misalnya penampilan, kita bisa memberikan prioritas khusus, mengapa tidak jika itu untuk pendidikan anak, dalam hal ini alqur’an? Nah!

Bagaimana menumbuhkan motivasi anak?

Pertama, jadikan Alqur’an sebagai isu utama sehari-hari di rumah. Keteladanan orang tua dalam hal ini mutlak diperlukan. Selain itu, tumbuhkan juga persepsi positif bahwa prestasi yang berhubungan dengan Alquran adalah lebih penting dibandingkan dengan prestasi lainnya—termasuk prestasi akademik. Ustadzah Sarmini sendiri memilih homeschooling bagi anak-anaknya agar mereka bisa memberikan focus lebih kepada Alqur’an, tanpa harus membebani mereka dengan beban akademis sebanyak sekolah pada umumnya (dengan asumsi, insya Allah untuk standarisasi akademis semacam UN akan mengikuti kecemerlangan mereka dalam menghafal qur’an). Selain itu, ajarkan anak-anak untuk lebih hormat kepada kakak/adiknya yang memiliki hafalan Alquran lebih banyak. Tanamkan kepada mereka, bahwa jika Allah saja memuliakannya, apalagi kita manusia?
Kedua, rayu anak dengan hal-hal yang paling disenangi. Saat anak mulai mencari-cari alasan untuk berangkat mengaji, misalnya, lalu ia mulai mengajukan syarat A, B, dan C, sesungguhnya yang ia tuju bukanlah syaratnya, tetapi bagaimana ia bisa melobby orangtuanya agar ia tidak perlu mengaji seperti biasa. Oleh karena itu, orang tua jangan sampai ‘kalah’, penuhi saja syarat-syarat yang diajukan selama masih ‘masuk akal’. Munculkan titik-titik kompromi yang berorientasi kepada kebaikan bersama. Saat ia menolak sesuatu, jangan pula lupakan untuk mencari tahu akar penyebabnya, dan hendaknya mulai dari situlah solusi dicari.

Kendala orang tua, bagaimana cara mengatasinya?

Orang tua yang multitasking—bekerja, bermasyarakat, berdakwah, mengurus rumah tangga, dan sebagainya, tentu memiliki masalah mereka sendiri diluar kewajiban mendidik anak. Hal ini sangat manusiawi, hanya saja perlu kita perhatikan bahwa jangan sampai justru masalah-masalah itulah yang menghambat interaksi anak-anak kita dengan Alqur’an. Misalnya, sebisa mungkin atasi dan antisipasi kelelahan berlebih yang membuat kita urung mendampingi anak belajar Alqur’an. Orang tua juga tidak perlu terlalu kaku dengan target, misalnya jika menjadwal mengaji setiap ba’da maghrib sampai dengan isya, sementara suatu saat waktu tersebut terpaksa terisi dengan agenda lain (ada tamu, dan sebagainya), orang tua dan anak bisa bersama-sama merancang waktu pengganti. Selain itu, saat lelah, kadang orang tua mudah marah dan tidak sabaran. Bagaimana mengatasinya? Istighfarlah, bila perlu ucapkan di hadapan anak, “bismillah, insya Allah ummi bisa menahan marah”. Dengan demikian bisa menjadi control juga untuk diri kita pribadi. Di lain waktu, ajak anak untuk bersama-sama berdoa, menguatkan motivasinya. Lakukan sholat hajat dan khususkan doa untuk kemudahan mengajarkan dan mendampingi anak mempelajari alquran.

Bagaimana dengan pembagian peran antara ibu dan ayah? Asal soal visi dan misi sama-sama tuntas, secara teknis banyak pilihan bisa ditempuh. Sebagian mungkin menyerahkan secara khusus pendampingan anak terkait menghafal ini kepada ibunya. Sebagian lain bisa jadi ayahnyalah yang lebih berperan. Bergantian juga bisa, atau berbagi tugas. Ustadzah Sarmini menceritakan tentang interaksi beliau dengan orang tua Musa Al Hafidz (pemenang Hafidz Indonesia RCTI tahun lalu), Masya Allah, ternyata ayahnya lah yang intensif mendampingi Musa. Bagaimana dengan ibunya? Apakah bersantai-santai saja? Tidak, ibunya kebagian jatah mendampingi adiknya Musa (dulu juga kontestan Hafidz Indonesia, 3,5 tahun). Karena si adik lebih ‘bisa’ menghafal dengan ibunya, maka disepakatilah pembagian tersebut. Allahu akbar…. Keren banget yaa :’)

Terakhir… temukan komunitas. Sebagaimana keimanan seseorang akan berkonsekuensi dengan didatangkannya ujian, maka keistiqomahan dalam mendekatkan diri kepada Allah melalui Alquran juga banyak tantangannya. Di antara karakteristik hafalan alqur’an adalah, mudah dihafalkan dan mudah pula hilang hafalannya. Kenyataannya, justru disinilah mukjizatnya. Saat seseorang berkomitmen menghafalkan alquran, harus diiringi pula dengan kemauan kuat untuk terus mengulang-ulang hafalannya—dengan demikian interaksinya dengan Alqur’an terus terjaga. Saat semangat atau keistiqomahan kita menurun, komunitas inilah yang akan menjaga kita. Maka sangat dianjurkan kepada penghafal Alquran untuk bergabung dengan komunitas penghafal juga, entah di pesantren, rumah tahfidz, lembaga pendidikan dan sebagainya.

What’s next? Saatnya beramal. Praktik. Action. Alhamdulillah, kami beruntung bisa memulainya dari anak pertama (Kata Ustadzah Sarmini, keberhasilan pada anak pertama inilah yang nantinya insya Allah memudahkan kita untuk mendidik anak selanjutnya, sebab sudah ada role model). Dan benar, peran komunitas sangat penting—dan kami bersyukur telah menjadi bagian dari keluarga Rumah Tahfidz Arraihan Bantul. Meski masih seumur jagung, semangat kami insya Allah bisa saling menjaga sesame saudara untuk terus istiqomah mendidik generasi-generasi baru yang cinta dan hafal Alquran.
Jazakumullah kepada seluruh pimpinan wilayah Salimah DIY, ditunggu lanjutan seminarnya ya…

Sumber : 

https://iingsaja.wordpress.com/2015/04/22/ 

This entry was posted in: Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s