Artikel
Leave a Comment

wahai dunia , carilah dan Rayulah orang selain diriku ..!

 

Sabarlah. Dunia ini hanya sebentar saja…

(Ahad, 5 April 2015). By Ust Dzaky . 

6 hari di lokasi Super Manzil Intensif. Di kampung Jogjogan, Cilember Cisarua…

Udaranya terasa sejuk. Masih lumayan bersih. Jika malam menjelang, mulai terasa sepi..

Biasanya saat tengah malam aku terbangun, suara gemericik sungai kecil terdengar merdu. Angin semilir yang menabuh daun daun samar terdengar syahdu. Udara yang menyelinap masuk melalui lubang fentilasi, segar membawa aroma daun dan bunga. Aku disekap kedamaian yang membuai…

Pikiranku pergi mengembara. Menjelajah belantara khayalan… Menyambung nyambung angan yang belum berujung.

Ingin rasanya membeli tanah dikampung ini. Lalu kubangun villa atau bungalow yang tak harus besar dan luas, tapi cukup asri dan tertata indah. Ada taman yang bisa memanjakan mata. Ada kicau burung burung yang membuai telinga. Ada gazebo kayu beratap ijuk tempat keluarga besarku bercengkrama, berbagi kisah kisah…diiringi tangisan lucu dan gelak tawa anak anak kecil

Aduhai…

Bukankah ini impianku sejak aku belia? Memiliki rumah yang jauh dari kebisingan kota? Yang setiap pagi aku bisa melihat indah dan gagahnya gunung? Yang ada sungai dengan suara gemuruhya atau gemercik mata air yang menentramkan hati?

Tiba tiba saja aku tersadar, betapa singkatnya dunia… Dan betapa semunya nikmat dunia…betapa terbatas nikmatnya…

Mengapa harus mengkhyalkan sesuatu yang memang sebenarnya khayalan? Mengapa harus mewujudkan sesuatu yang memang sebenarnya hanya mimpi….?

Come on, Dzaky! Wake up..!

Dunia ini hanya sebentar saja. Hiasan yang menipu… Inilah buktinya!

Saat kita lapar, lalu makan sepiring nasi. Terasa nikmat. Dua piring nasi dan lauknya, nikmat berkurang. Tiga piring dan seterusnya, mual dan muntah..

Minum segelas air saat haus terasa nikmat. Minum 100 gelas air, muntah…

Makan durian 1 potong nikmat. Makan durian sekarung meninggal dunia…

Tidur 2 atau 3 jam nikmat dan segar. Tidur 20 jam pusing dan lemas…

Menikmati malam dengan suami atau istri 30 menit atau satu jam, nikmat, melayang, dan segar. Bermadu kasih dan cinta dengan suami atau istri 24 jam nonstop, menyebabkan lumpuh…

Ah… Lalu kenapa harus gigih dan mati matian untuk sesuatu yang singkat, semu, dan melelahkan?

Kenapa tidak gigih dan sungguh sungguh mendapatkan kenikmatan yang kekal saja. Kenapa tidak mengejar sesuatu yang abadi. Kenapa tidak bersabar untuk meraih kenikmatan yang bukan hanya seratus duaratus tahun…

Ah… Dunia… Nikmatmu sebentar terasa… Sebentar saja….

Pantas saja dunia begitu hina dihadapan orang orang mulia…

Sebagaimana ‘Ali bin Abi Thalib berkata,

“Wahai dunia, carilah dan rayu-lah orang orang selainku… Aku telah menceraikanmu dengan thalaq 3…”

This entry was posted in: Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s